The Brain-in-a-Vat

fisika persepsi tentang bagaimana otak menerjemahkan impuls listrik jadi dunia visual

The Brain-in-a-Vat
I

Coba kita berhenti sejenak dan perhatikan layar di depan kita. Warnanya, bentuk hurufnya, serta cahaya yang memancar dari baliknya. Semuanya terasa begitu solid dan nyata, bukan? Tapi, bagaimana kalau saya bilang bahwa semua yang sedang kita lihat saat ini... sebenarnya tidak ada di luar sana? Bagaimana kalau dunia visual yang kita nikmati setiap hari, pada hakikatnya, hanyalah sebuah halusinasi yang disepakati bersama? Pernahkah kita memikirkan, dari mana asal warna merah pada sebuah apel, atau birunya langit sore? Mari kita mulai perjalanan kecil ke dalam ruang paling gelap dan paling sunyi yang pernah kita tempati seumur hidup: kepala kita sendiri.

II

Pada tahun 1980-an, seorang filsuf bernama Hilary Putnam mempopulerkan sebuah eksperimen pikiran yang sukses membuat banyak orang meragukan kewarasannya. Namanya Brain-in-a-Vat atau otak di dalam tong. Mari kita bayangkan ada seorang ilmuwan gila yang mengambil otak kita, menaruhnya di dalam tabung berisi cairan nutrisi penopang kehidupan, lalu menyambungkan kabel-kabel ke sebuah komputer super canggih. Komputer ini mengirimkan sinyal listrik buatan yang persis sama dengan yang biasa diterima otak kita sehari-hari.

Pertanyaannya: bisakah otak kita membedakan mana realitas yang asli dan mana simulasi dari komputer? Terdengar seperti plot film The Matrix, ya. Tapi, bagian yang paling mengejutkan dari eksperimen pikiran ini bukanlah tentang ilmuwan gila atau komputer masa depan. Fakta ilmiahnya justru jauh lebih gila. Kita tidak perlu membayangkan skenario fiksi ilmiah untuk menjadi Brain-in-a-Vat. Kenapa? Karena saat ini, detik ini juga, kita sebenarnya sudah menjadi otak di dalam tong. Tong itu terbuat dari tulang yang sangat keras, dan kita menyebutnya sebagai tengkorak.

III

Mari kita bedah situasi ini pelan-pelan menggunakan kacamata fisika dan biologi. Otak kita adalah gumpalan materi biologis seberat kurang lebih satu setengah kilogram. Ia duduk berdiam diri di dalam ruang tengkorak yang gelap gulita dan kedap suara. Otak kita tidak punya mata. Ia tidak punya telinga, apalagi kulit. Ia tidak pernah, sekalipun, bersentuhan langsung dengan dunia luar. Lalu, bagaimana bisa kita melihat indahnya rintik hujan atau mengenali wajah orang-orang yang kita sayang?

Nah, di sinilah keajaiban hard science terjadi. Ketika kita melihat sebuah pohon, yang terjadi secara fisika bukanlah pohon itu masuk ke dalam mata kita. Yang terjadi adalah partikel cahaya, atau foton, memantul dari daun pohon tersebut dan menabrak retina di bagian belakang mata kita. Di dalam retina, cahaya itu musnah dan diubah menjadi sesuatu yang sama sekali berbeda: impuls listrik. Hanya itu. Sinyal listrik kecil yang berlarian dalam kegelapan di sepanjang saraf optik menuju otak.

Tidak ada cahaya di dalam saraf kita. Tidak ada warna, tidak ada suara, tidak ada bau. Semuanya telah diterjemahkan menjadi kode-kode listrik yang bisu. Di titik ini, kita dihadapkan pada sebuah teka-teki besar: jika otak kita hanya menerima semburan listrik acak di dalam kegelapan total, bagaimana ia bisa melukis sebuah realitas tiga dimensi yang begitu kaya dan hidup?

IV

Jawabannya mungkin akan sedikit mengubah cara kita memandang hidup selama ini. Otak kita sama sekali tidak bekerja seperti kamera video yang merekam dunia secara pasif. Sebaliknya, otak kita adalah mesin penebak yang luar biasa canggih. Dalam dunia neurosains modern, mekanisme ini dikenal dengan istilah predictive processing.

Otak kita mengambil sinyal-sinyal listrik yang buta tadi, lalu menggunakan ingatan masa lalu, sejarah evolusi jutaan tahun, dan tebakan terbaiknya untuk menyusun sebuah cerita tentang apa yang mungkin sedang terjadi di luar sana. Jadi, warna hijau pada daun sebenarnya tidak menempel pada daunnya. Hijau adalah murni sensasi internal yang diciptakan oleh otak kita untuk menerjemahkan panjang gelombang elektromagnetik tertentu. Suara bising jalanan? Itu murni ciptaan otak kita untuk merespons getaran molekul udara yang menabrak gendang telinga.

Dunia yang kita alami detik ini adalah konstruksi aktif yang dibangun dari dalam ke luar, bukan sekadar penerimaan pasif dari luar ke dalam. Kita semua, secara biologis dan fisika, sedang berhalusinasi setiap saat. Namun, karena halusinasi kita terus-menerus dikalibrasi oleh informasi dari luar, dan kebetulan cocok dengan halusinasi yang dialami oleh orang lain, kita bersepakat untuk menyebutnya sebagai "realitas".

V

Memahami fisika persepsi ini mungkin awalnya terasa menakutkan atau membuat kita merasa sedikit terisolasi. Fakta bahwa kita semua pada dasarnya terjebak di dalam tengkorak kita masing-masing, mengkonstruksi dunia kita sendiri-sendiri, bisa terdengar sepi. Tapi bagi saya pribadi, kesadaran semacam ini justru menumbuhkan rasa empati yang sangat dalam.

Kini menjadi masuk akal mengapa kita sering kali gagal sepaham dengan orang lain. Itu karena kita benar-benar "melihat" dunia yang berbeda. Otak teman kita atau pasangan kita membangun realitasnya berdasarkan sejarah, trauma, dan pengalaman biologisnya sendiri—yang sudah pasti tidak sama dengan database otak kita.

Bukankah sangat indah menyadari bahwa, meskipun kita terkurung di dalam kegelapan tengkorak masing-masing, kita tidak pernah menyerah untuk saling menjangkau? Kita menciptakan bahasa verbal, menulis puisi, melukis karya seni, dan membangun teknologi hanya untuk mengirimkan sinyal ke otak lain. Kita terus berharap mereka bisa menangkap apa yang kita lihat, dan merasakan apa yang kita rasakan. Kita mungkin memang sekadar Brain-in-a-Vat, tapi setidaknya, kita berusaha keras untuk saling menemani di dalam kegelapan ini.